Essay Mental Health

        Assalamualaikum Wr Wb hallo kawan kawan kali ini aku akan menjelaskan kepada kalian bagaimana sih cara kita bisa menjaga Mental Health kita dalam kondisi pandemi COVID - 19 ini yang belum mereda sampai sekarang ini. terutama bagi kalian nih "generasi Z" pasti kalian jenuh banget kan ama yang namanya PJJ ini atau istilah kerennya sih School From Home ini.

    Biasanya nih kalo School From Home ini tugasnya kan lebih banyak pasti daripada sekolah yang mana kita ke sekolahnya langsung, bisa main sama temen temen, belajar langsung sama gurunya, materi mudah masuknya, atau bisa jadi pasti beberapa dari kalian suka kabur ke kantin kan :p. hehehe ngaku aja soalnya aku juga waktu SMA suka gitu kok :p

    Stress? sudah pasti gak ada feel kita sekolahnya kan. cuman tugas tugas tugas dan setiap hari tugas menumpuk. sebenernya ini gak boleh dibiarin loh. karena stress yang berlebihan bisa menyebabkan depresi yang bisa berujung pada bunuh diri loh. hiii serem kan. makanya apabila kita stress tidak boleh dipaksakan dalam mengerjakan tugas loh. tidak apa apa untuk mengambil rehat sejenak dengan cara main game ataupun kegiatan fisik lainnya, seperti olahraga, bermain catur, bermain puzzle, bermain tick tack toe, minum coklat panas, main valorant, main mobile legends, main PUBG dan lain lain dehh pokoknyaa

    Menurut Dwyer, homeschooling berpotensi membuat anak tertinggal secara akademis. «Mengingat apa yang kita ketahui tentang kerentanan relatif terhadap virus corona, keputusan penghentian kegiatan belajar di sekolah lebih megutamakan kesejahteraan orang dewasa daripada kesejahteraan anak-anak,» ungkapnya. Dwyer merujuk pada kondisi umum di mana anak-anak memiliki kans lebih rendah tertular Covid-19 dibandingkan orang dewasa dan lansia. Studi pada 2014 menemukan bahwa 47 persen anak korban kekerasan adalah yang bersekolah di rumah serta 29 persen lain tidak pernah terdaftar di sekolah.


Sebelum pandemi corona merebak, tiga persen anak-anak di Amerika Serikat yang mengikuti homeschooling. Dwyer menyerukan kepada orang tua dan siapapun yang kini mendampingi anak belajar di rumah memiliki pendidikan dasar demi kemajuan akademik siswa. Profesor lain di Sekolah Hukum Harvard, Elizabeth Bartholet, sepakat bahwa anak-anak lebih rentan dengan kekerasan dan pelecehan setelah penutupan sekolah. Hal yang bisa semakin memperparah masalah adalah keputusan Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS bahwa pekerja sosial tidak perlu memantau anak asuh secara langsung.
Bartholet mengatakan, pekerja sosial seharusnya tetap melakukan kunjungan langsung ke rumah untuk mengetahui lebih akurat apakah anak-anak dalam kondisi aman. Survei oleh RealClear Opinion Research yang melibatkan 2.122 responden mengungkap, 40 persen keluarga mempertimbangkan menyekolahkan anak di rumah atau sekolah virtual setelah pandemi berlalu.

artikel diatas saya mengambil dari ( https://republika.co.id/berita/qarer9414/sekolah-ditutup-pakar-harvard-ungkap-risiko-emhomeschoolingem ) 

beberapa bahaya lain adalah 

1. anak bisa diintai predator dari internet

2.  anak bisa menjadi korban cyber bullying

3. anak bisa menjadi korban penipuan

4. anak anak bisa terjerumus kedalam konten seksual

5. anak anak bisa menjadi penikmat konten kekerasan

6. anak anak bisa mendownload konten yang berisi malware

7. anak anak bisa mendapatkan iklan iklan yang tidak diinginkan di komputer keluarga

8. komputer keluarga bisa menjadi rusak karena virus hasil dari downloadan anak anak

tuh bisa dilihat kan gimana seremnya kalo kita stress dalam mengerjakan tugas di rumah. saran aku adalah kita jangan jangan sampai terlalu menjadi pikiran tugas tugas kita di sekolah dengan cukup istirahat 

Komentar